Selamat Datang…..

Dapatkan berbagai informasi terbaru mengenai Festival Mosintuwu yang akan di gelar pada 31 Oktober – 2 November 2019.

Evently

Stay Connected & Follow us

Simply enter your keyword and we will help you find what you need.

What are you looking for?

Good things happen when you narrow your focus
Welcome to Conference

Write us on info@evently.com

Follow Us

  /  Cerita Kami   /  Bertemu, Belajar, Merayakan Poso

Bertemu, Belajar, Merayakan Poso

FFestival Mosintuwu kembali diselenggarakan pada 31 Oktober – 2 November 2019 di Tentena, Kabupaten Poso dengan tema “Menguatkan, Merayakan Kebudayaan, Alam dan Keanekaragaman Hayati Poso”. Tahun ke empat Festival Mosintuwu menguatkan komitment sebagai ruang bagi masyarakat desa untuk berkolaborasi merawat kebersamaan antara sesama dan manusia, bersamaan dengan menjaga kelestarian alam dan kebudayaan.

Selain kelompok perempuan yang berasal dari berbagai desa, Festival Mosintuwu tahun ini melibatkan anak muda perwakilan titik Jelajah Budaya RUMAH KITA yang merefleksikan nilai-nilai perdamaian yang diambil dari kearifan lokal.Titik jelajah budaya Rumah KITA ini merupakan hasil diskusi Institut Mosintuwu bersama warga desa, tokoh agama, tokoh budaya, sejarahwan dan seniman Poso sepanjang 2018 – 2019. Di antara ke 12 titik nilai terdapat Nilai Ketuhanan dan Nilai Saling Percaya. Nilai ketuhanan di Desa Mapane, menjadi pusat peradaban dan dialog antar agama di Poso. Nilai Saling Percaya terdapat di Tokorondo, di mana warga lintas komunitas dan suku menjaga rasa percaya dalam berbagai situasi dan kondisi termasuk saat konflik Poso terjadi.

Festival tahun ini juga didukung oleh berbagai relawan dari Palu, Parigi, dan Poso, meneruskan jejaring relawan yang bahu membahu saat bencana tsunami menerpa Sulawesi Tengah tahun lalu.
“Festival Mosintuwu adalah konsep yang melampaui sebuah event, karena ini adalah ruang dimana ingatan atas kearifan lokal dari pengetahuan dan alam Poso dirawat bersama sehingga bisa jadi pondasi membangun Tana Poso” tutur Lian Gogali, Direktur Institut Mosintuwu.

Ruang merawat ingatan tersebut, lanjut Lian, dirancang dalam serangkaian kegiatan seperti workshop, karnaval hasil bumi, berbagi bibit, warung desa, pasar desa, galeri usaha desa, bertemu para pengrajin, kuliner persembahan empat suku, karnaval, pojok resep To Poso, acara makan bersama atau Molimbu, laboratorium mini botani dan iktiologi Danau Poso hingga Ekspedisi Poso.

Puncaknya adalah pemberian Mosintuwu Award, sebuah penghargaan tertinggi untuk para penjaga kebudayaan Tanah Poso. Tak ketinggalan, Festival Mosintuwu juga akan diramaikan lewat Konser Musik sebagai bagian dari upaya menyuarakan ide-ide dan imajinasi tentang kehidupan masyarakat yang damai, adil, dan berdaulat. Musisi yang diundang pun merupakan musisi yang memiliki perhatian terhadap isu-isu sosial kerakyatan.

Selain menampilkan karya musiknya, beberapa musisi tersebut turut menjadi pembicara pada workshop-workshop pemberdayaan masyarakat seperti musik, media fotografi, kopi, puasa plastik, dan video. Khusus untuk musik, Rival Himran dari MAN, yang juga bassist Steven and Coconut Band ikut menfasilitasi workshop musik. Rara Sekar, seorang musisi yang juga aktif kampanye berkebun terlibat aktif menfasilitasi workshop fotografi desa.

“Setiap yang terlibat di Festival Mosintuwu adalah mereka yang secara sadar memiliki perspektif, aksi dan karya yang peduli pada nilai kemanusiaan, alam dan kebudayaan. Karena itu, festival mosintuwu menjadi ruang bersama lintas generasi, lintas karya , yang menguatkan sekaligus merayakan kekuatan nilai budaya, alam dan keanekaragaman hayati “ Ujar Lian. “ Dan, kami bangga, Poso menjadi lokus wilayah yang menciptakan ruang itu”

Post a Comment