Selamat Datang…..

Dapatkan berbagai informasi terbaru mengenai Festival Mosintuwu yang akan di gelar pada 31 Oktober – 2 November 2019.

Evently

Stay Connected & Follow us

Simply enter your keyword and we will help you find what you need.

What are you looking for?

Good things happen when you narrow your focus
Welcome to Conference

Write us on info@evently.com

Follow Us

  /  Event   /  Panggung Musik : Tanah, Air, Hutan

Panggung Musik : Tanah, Air, Hutan

Musik sebagai pilihan untuk menyuarakan ide-ide dan imajinasi tentang kehidupan masyarakat yang damai, dan adil, yang berdaulat atas kehidupan ekonomi, sosial, budaya dan politik. Festival Mosintuwu mempersembahkan para musisi yang membawa semangat itu.

ROBI NAVICULA

Robi, adalah vokalis grup musik Navicula , sebuah band psychedelic-grunge dari Bali yang telah mendapatkan perhatian internasional dengan tur ke Amerika Serikat, Kanada, dan Australia. Sejak terbentuknya Navicula di tahun 90-an, isu-isu lingkungan dan sosial telah menjadi tema yang konsisten dalam musik Navicula. Robi, adalah petani, penulis, aktivis sosial dan perdamaian.

Lahir di Palu, Sulawesi Tengah, Robi memiliki keterikatan dengan wilayah ini termasuk Kabupaten Poso. Tahun 2016, Robi menjadi komposer musik “The Peace Agency” film dokumenter perjalanan Sekolah Perempuan Mosintuwu dengan menggunakan musik-musik karambangan dari Pamona, Poso.

RADJINA

Penyanyi perempuan Poso pertama yang melahirkan album rekaman dalam bentuk kaset di Perusahaan rekaman bernama Cipayung. Saat itu Rajina masih kelas 6 SD. Lagu Alisintowe, yang dinyanyikan Rajina di usia 12 tahun memulai era meledaknya lagu-lagu Poso di berbagai kegiatan termasuk di moda transportasi sejak tahun 1972 . Rajina menulis lebih dari 30 lagu Poso yang direkam di berbagai studio, termasuk Pamona Record.

NARDI BANGGAI

Musisi lokal yang aktif menciptakan dan membawakan lagu-lagu karambangan. Mendirikan sanggar seni untuk melestarikan musik tradisi. Tahun 2019, Nardi menerima anugerah Mosintuwu Award untuk kategori Penjaga Tradisi Musik Tradisional

CULTURE PROJECT

Culture Project merupakan gagasan yang bermula dari seorang seniman arsitektur, Zulkifly Pagessa, yang dibuat khusus untuk happening art di event teater dan pertunjukan kebudayaan. Mulanya berfungsi untuk menghidupkan kembali karya-karya almarhum Hasan Bahasyuan, seorang seniman dan budayawan Kaili yang sangat produktif di masa silam. Tugas utama Culture Project adalah menyampaikan pesan tradisi Kaili ke ruang popular dan menginterpretasi pesan kearifan suku Kaili ke dalam peralatan musik analog dan digital.

Culture Project itu sendiri dinahkodai oleh Umariyadi Tangkilisan yang mempersembahkan karya musikal yang bernyawakan tradisi lokal. Proses penciptaan karya musik ini dilakukan melalui riset kebudayaan, dan berbagai diskusi dari ruang ke ruang bersama tokoh adat Kaili dan para seniman lainnya. 

Saat ini komposisi Culture Project terdiri dari Umariyadi Tangkilisan (guitar, vocal), Zhul Usman (vocal), Moh. Ayub Langandong (bass, vocal), Riyan Fauzi Ashari, (guitar, vocal, percussion), Hidayat Makaranu (drum)

GURITAN KABUBUL

Duo asal kota Tentena yang memilih untuk memulai karir bermusik mereka di jalur indie dengan formasi Icong (vokal ) emon (gitar,  vokal). Guritan kabudul terbentuk pada tahun 2018 saat keduanya  berada di dua kota yang berbeda icong (jogja), Emon (bandung). Panggung perdana mereka diselenggarakan dalam rangka konser amal bencana di Palu, Sigi, Donggala dan Parigi yang diadakan di Jogjakarta. 

Musik folk yang di usung oleh Guritan Kabudul mendapat respon positif oleh para pendengarnya hingga mendorong mereka untuk mengeluarkan single pertama mereka “lirih merayu” .  Guritan  Kabudul berharap keberadaan mereka kiranya dapat membakar semangat generasi muda untuk berkreatifitas. “Kami senang dapat bernyanyi terlebih lagi dapat dinikmati” adalah mottonya .

SENTIMENTAL KAMPUNG HALAMAN

Band folk asal kota Poso berdiri tahun 2020 merilis mini album berjudul Jelata Kaya. Duo yang digawangi Rial dan Pey telah mengeluarkan mini album berisi 5 karyanya di 5 platform digital. Dengan durasi rata-rata 3 -4 menit, vokal Rial yang agak berat berpadu cabikan bass Pey mengingatkan kita tentang pengrusakan alam atas nama investasi yang sedang berlangsung. Ancaman rusaknya alam dan budaya di pinggir Danau Poso mereka suarakan lewat Romansa Yondo mPamona.

Post a Comment