Selamat Datang…..

Dapatkan berbagai informasi terbaru mengenai Festival Mosintuwu yang akan di gelar pada 31 Oktober – 2 November 2019.

Evently

Stay Connected & Follow us

Simply enter your keyword and we will help you find what you need.

What are you looking for?

Good things happen when you narrow your focus
Welcome to Conference

Write us on info@evently.com

Follow Us

  /  Cerita Kami   /  Mengenal Sosok Peraih Mosintuwu Award 2022

Mengenal Sosok Peraih Mosintuwu Award 2022

DUA sosok ini bukanlah pesohor. Bukan pula elit lokal yang ”titahnya” menjadi rujukan banyak orang di komunitasnya. Mereka juga bukan aktivis yang melakukan diskusi-diskusi kritis dengan warga di tingkat tapak. Namun keteguhan, keberpihakan dan pilihan sikap mereka memperjuangkan nilai yang dianutnya, membuat kedua orang ini pantas diganjar dengan penghargaan. Datang dari profesi yang berbeda, mereka berdua melakukan perlawanan dalam sunyi dengan caranya sendiri-sendiri. Maka penghargaan yang mereka terima malam itu, menjadi relevan dan pantas. Demikian, host Lany Mokolino memperkenalkan sosok penerima penghargaan di malam puncak Festival Mosintuwu, 12 November 2022 itu.

Tahun ini, Mosintuwu Institut menganugerahkan Mosintuwu Award kepada Fredi Kalengke (46) pemilik waya masapi di Sungai Poso. Penghargaan lainnya diberikan pada Yohanes Lita (44) – jurnalis Voice of America (VoA). Fredi Kalengke adalah salah satu dari tiga pegiat waya masapi alias pagar sogili yang terus bertahan. Puluhan rekannya kini tak lagi menjalankan usaha pagar sogili, karena berbagai hal. Menurut dia, sejak kehadiran alat berat milik PT Poso Energy mengeruk dasar sungai, satu persatu pagar sogili pun lenyap.

Saat memberikan testimoni usai menerima penghargaan dari Direktur Mosintuwu Lian Gogali, Fredi mengaku tidak tidak akan melepas pagar sogili miliknya. ”Dengan cara apa pun saya akan tetap bertahan,” ujar Fredi disambut aplaus puluhan pengunjung festival. Koleganya sesama pemilik waya masapi berjumlah delapan orang kini hengkang setelah mendapat uang tebusan dari perusahaan sebesar Rp325 juta untuk sembilan orang. Namun ia menolak kompensasi dari perusahaan. Koleganya kebagian Rp36 juta lebih per orang. Ia membiarkan bagiannya tidak diambil.

Bagi dia maupun orang Poso secara umum, Waya masapi tak semata mata pencaharian. Ada nilai budaya yang harus dijaga secara turun temurun. Dirinya adalah generasi ketiga penjaga waya masapi, setelah nenek dan orang tuanya menjalankan tradisi itu. Ia juga memegang surat wasiat dari neneknya – untuk menjaga warisan budaya dari kepunahan. ”Ada tanggungjawab sejarah yang harus saya jaga di sana,” katanya mengakhiri.

PENULIS KEMANUSIAAN – Komitmen dan dedikasi atas jurnalisme publik membuat Mosintuwu Institut memberi Mosintuwu Award. Penghargaan diberikan oleh Direktur Mosintuwu Institut Lian Gogali di malam puncak Festival Mosintuwu, Sabtu 12 November 2022

Penerima penghargaan lainnya adalah Johanes Lita. Jurnalis VoA yang sebagian hidupnya dihabiskan di medan liputan. Saat ujicoba PLTA Poso I, yang menyebabkan terendamnya sawah dan ternak milik petani di sekitar Danau Poso, ia salah satu wartawan yang memberitakan secara konsisten kondisi petani di sana. Johanes Lita, mengawali karir jurnalistiknya di Radio Nugraha Palu. Hengkang dari Radio Nugraha, pada 2005 ia menjadi wartawan di Radio Elshinta Jakarta. Pada 2006, menjadi kontributor di Kabupaten Poso, untuk sebuah televisi nasional. Bersamaan dengan itu, merangkap pula menjadi koresponden Trijaya FM Jakarta dan VoA. Liputannya di Kabupaten Poso adalah isu terorisme dan lingkungan.

Karya jurnalistiknya banyak merekam suara orang-orang kecil. Keberpihakannya pada petani yang dirugikan oleh kebijakan korporasi terlihat jelas dalam liputannya pada dua tahun terakhir ini. Atas dedikasinya selama 25 tahun di profesi jurnalistik itu, ia menerima sejumlah penghargaan dari organisasi kemanusiaan di Sulawesi Tengah. Saat memberikan testimoni di panggung, Johanes mengaku penghargaan yang diterimanya sebagai pengakuan terhadap jurnalisme yang dalam kesejatiannya senantiasa bersama dengan suara-suara yang tidak bersuara.

Lian Gogali mengatakan, Mosintuwu Award adalah sebuah penghargaan tertinggi kebudayaan dari masyarakat Poso kepada para sosok atau komunitas yang bekerja, hidup dan berjuang untuk mempertahankan, meneruskan, mewariskan kebudayaan tana Poso. Mereka yang mendapatkan penghargaan Mosintuwu Award dapat berupa individu, kelompok atau masyarakat desa. Penghargaan diberikan setelah melalui proses penelitian yang dilakukan Institut Mosintuwu secara mandiri atas individu, kelompok dan masyarakat desa yang layak menerima Mosintuwu Award. Mosintuwu Award bertujuan untuk menguatkan dan meneruskan langkah para penjaga tradisi kebudayaan Tana Poso untuk mewariskannya pada generasi masyarakat Poso. ***

Penulis    : Amanda

Post a Comment