Selamat Datang…..

Dapatkan berbagai informasi terbaru mengenai Festival Mosintuwu yang akan di gelar pada 31 Oktober – 2 November 2019.

Evently

Stay Connected & Follow us

Simply enter your keyword and we will help you find what you need.

What are you looking for?

Good things happen when you narrow your focus
Welcome to Conference

Write us on info@evently.com

Follow Us

  /  Cerita Kami   /  Tanah, Air dan Hutan, Syair Harmoni Manusia dan Alam

Tanah, Air dan Hutan, Syair Harmoni Manusia dan Alam

HELATAN Festival Mosintuwu tahun 2022, terasa berbeda. Sempat vakum dua tahun karena dihajar pandemi Covid-19, tahun ini Mosintuwu Institut menghadirkan gelaran dengan merilis lagu resmi festival bertajuk Tanah, Air, Hutan. Liriknya berisi tentang alam dengan fokus pada tiga elemen penting tanah, air dan hutan.

Lagu yang klip videonya dirilis secara resmi pada 9 November 2022, menyuarakan tentang tanah, air dan hutan sebagai sumber penghidupan semua mahluk. Karena begitu besarnya ketergantungan semua mahluk pada alam, maka menjaganya adalah sebuah keharusan. Bukan merusaknya dengan dalih investasi dan pembangunan. Lagu ini juga menyiratkan kegelisahan penciptanya akan Tana Poso terhadap eksploitasi alam yang ugal-ugalan. Aransemen musiknya yang terasa hidup, membuat lagu ini tak sekadar menginspirasi pendengarnya. Namun juga mampu menggerakkan.

Model video klipnya, perempuan asal Desa Bukit Bambu dan penyintas kerusuhan Poso tahun 2000, Martince Belaona, mampu menggambarkan sosok penduduk desa yang menggantungkan hidupnya pada tanah, alam dan air, dengan sangat apik. Kameramen Ray Rarea, mampu menghadirkan karakter perempuan desa melalui sosok Martince yang menggantungkan hidupnya pada kebaikan alam. Namun diliputi resah dan gelisah karena kualitas alam yang terus menurun karena eksploitasi yang tak kenal ampun.

Lirik lagu ini adalah kerinduan akan alam yang indah sekaligus keresahan sang penulis terhadap alam Danau Poso. Di atas tanah tempat berpijak, mereka menyaksikan perubahan bentang alam, roda ekonomi yang terhenti hingga hilangnya tradisi. Sementara perlawanan yang dilakukan tak mampu mengubah ekspansi industri padat modal yang petantang petenteng, seolah bebas melakukan apa saja.

Sang penulis, Nerlian “Lian” Gogali (44) merupakan seorang aktivis perempuan dan perdamaian juga pendiri Sekolah Perempuan dan Institut Mosintuwu. Lian Gogali mendirikan Institut Mosintuwu pada tahun 2009, untuk membantu perempuan berdaulat atas hak-hak ekonomi, sosial, politik dan budaya. Institut Mosintuwu yang dibesutnya awalnya hanya dua unit sekolah yang berlokasi di Pamona. Kini, Mosintuwu sudah berkembang ke 37 desa dengan 16 sekolah. Dengan Project Sophia, Lian mendirikan perpustakaan keliling untuk anak-anak, sebagai jalan untuk membangun perdamaian di tingkat akar rumput melalui pendidikan.

Liriknya dibuat oleh Guritan Kabudul. Duo asal kota Tentena yang memilih untuk memulai karir bermusik mereka di jalur indie dengan formasi Icong (vokal), Emon (gitar, vokal). Guritan Kabudul terbentuk pada tahun 2018 saat keduanya berada di dua kota yang berbeda icong (jogja), Emon (bandung). Panggung perdana mereka diselenggarakan dalam rangka konser amal bencana di Palu, Sigi, Donggala dan Parigi yang diadakan di Jogjakarta. Melalui musik folk yang diusung, Guritan Kabudul berharap keberadaan mereka kiranya dapat membakar semangat generasi muda untuk berkreatifitas. “Kami senang dapat bernyanyi terlebih lagi dapat dinikmati” adalah mottonya.

Gabriela alias Ela (16) relawan di Festival Mosintuwu, mengaku menjadi hafal lagu resmi Fesival Mosintuwu itu. walaupun liriknya diakui ”berat” namun ia bisa memahami subtsansi pesan dari lagu itu. ”Itu lagu tentang alam. Tentang lingkungan kan,” katanya setengah menebak.

Selama empat hari pelaksanan festival, alunan dan intro lagu ini menghiasi langit di atas venue utama. Ini membuat 300 lebih peserta festival menjadi akrab dengan lirik maupun musiknya. Pada pentas terakhir, saat Guritan Kabudul menggebrak panggung festival, peserta festival kompak menyanyikan lagu syarat makna ini.

Tanah Air Hutan

Pada tanah leluhur menjejakkan sejarah
Di air leluhur mendendangkan syair kehidupan
Pada hutan leluhur menitipkan masa depankwr

Pada tanah rahim ibu kita rawat
Di air darah kita di airi
Pada hutan denyut napas kita berdetak

Tanah-tanah menanam siapa kita
Air-air mengalirkan jiwa kita
Hutan-hutan napas rumah kita

Tanah, air, hutan
Semesta hidup kita
Jaga, rawat berdaulat

Tanah air hutan
Semesta hidup kita
Jaga rawat pakaroso.***

Post a Comment